Tren produksi singkong mengalami peningkatan dalam satu dekade terakhir ini. Kendati tidak meningkat secara drastis, namun pertumbuhan produksi singkong tersebut layak mendapat perhatian.
Data yang dirilis oleh Kementerian Pertanian menunjukkan produksi singkong pada tahun 2000 sebesar 16,1 juta ton; naik menjadi 19,4 juta ton pada tahun 2004 dan terus mumbul menjadi 22 juta ton pada tahun 2009. Kenaikan tersebut disebabkan oleh membaiknya produktivitas tanaman singkong di sejumlah sentra produksi seperti Lampung, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.
“Petani sudah banyak yang melakukan pemupukan dan pengolahan lahan sehingga produktivitas meningkat,” ujar Direktur Budidaya Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian Muchlizar Murkan di Jakarta, Kamis (22/4/2010).
Jika petani tidak menyadari betapa pentingnya pemupukan dan pengolahan tanah, imbuh Muchlizar, produksi ubikayu tidak akan terdongkrak.
Kamis, 22 April 2010
Saham Bakal Fluktuatif
Setelah kemarin Indeks Harga Saham Gabungan kembali mencetak rekor baru, perdagangan di Bursa Efek Indonesia hari ini (23/4/2010) diperkirakan akan bergerak fluktuatif.
Kemarin kemarin mencatat rekor tertinggi baru di level 2.926,532. Disebutkan analis riset Panin Sekuritas Purwoko Sartono, rekor baru ini terdorong oleh menguatnya saham pertambangan, perkebunan, meski pada awal sesi indeks justru tertekan oleh aksi jual saham bluechip.
"Hari ini kami perkirakan perdagangan masih akan fluktuatif ditengah antisipasi pemodal akan laporan kinerja kuartal pertama 2010. IHSG kami perkirakan akan bergerak pada kisaran support-resistance 2.905-2.953," sebutnya.
Kemarin kemarin mencatat rekor tertinggi baru di level 2.926,532. Disebutkan analis riset Panin Sekuritas Purwoko Sartono, rekor baru ini terdorong oleh menguatnya saham pertambangan, perkebunan, meski pada awal sesi indeks justru tertekan oleh aksi jual saham bluechip.
"Hari ini kami perkirakan perdagangan masih akan fluktuatif ditengah antisipasi pemodal akan laporan kinerja kuartal pertama 2010. IHSG kami perkirakan akan bergerak pada kisaran support-resistance 2.905-2.953," sebutnya.
Saatnya Membeli Indonesia!
Jarak kota Santiago, Cile, dengan Jakarta kira-kira 15.617 kilometer. Namun, itu tidak menghalangi investor asal negara Amerika Latin tersebut untuk melirik peluang emas di Indonesia. Indonesia dijadikan negara ketiga terbesar untuk penempatan portofolio investor Cile itu.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif di saat negara lain didera krisis keuangan tahun 2008, inflasi juga rendah, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga terus mendaki tinggi membuat
Kisah ini didaur ulang Sekretaris Perusahaan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Wahid Sutopo saat berbicara dalam ”Media Update tentang Membedah Kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN)” di Jakarta, Rabu (21/4/2010). ”Orang Cile tersebut mengatakan, dia hanya investasi di enam negara, dan Indonesia adalah ketiga terbesar dalam portofolionya. Bagi dia, Indonesia sedang dalam kondisi terbaik saat ini,” ujarnya.
”This is time to buy Indonesia,” kira-kira demikian tema nondeal roadshow yang akan dilakukan pemerintah dan PT Danareksa di Singapura, pekan depan. Tujuannya, menarik masuk modal asing sebanyak-banyak.
Sasaran utamanya, barangkali ada sebagian dari modal asing itu yang menetap agak lama di dalam negeri, antara tiga dan delapan tahun, dan bukan sekadar hit and run (keluar masuk pasar modal) demi laba maksimal.
Kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan akan menyentuh Rp 2.500 triliun pada akhir semester I-2010. Itu bukan tugas terlalu berat karena hingga triwulan I-2010, kapitalisasi pasar sudah mencapai Rp 2.300 triliun.
Dalam dua tahun ke depan, BEI menargetkan pertambahan perusahaan yang terdaftar di bursa (emiten) menjadi 500 perusahaan. Sampai sekarang jumlah emiten yang terdaftar di BEI hingga 405 perusahaan.
BEI juga menargetkan jumlah investor sebanyak 1 persen dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 2,3 juta investor sehingga nilai kapitalisasinya mencapai Rp 3.000 triliun.
Pemilik dana besar
Kelihatannya tidak sulit mengajak pemilik dana besar di luar negeri untuk investasi di negara yang bisa memberikan ekspektasi keuntungan 15-20 persen rata-rata per tahun.
Yang sulit adalah menahan lebih lama dana-dana hedge fund asing itu di Indonesia dan menurunkannya pada sektor-sektor riil. Sebagai gambaran minimnya saluran antara pasar modal dan sektor riil dapat dilihat dari kapitalisasi pasar 14 BUMN yang sudah masuk bursa.
Lima BUMN besar di antaranya mencatat pertumbuhan kapitalisasi pasar luar biasa. Namun, rata-rata pertumbuhan kinerjanya ditopang oleh peningkatan ekonomi di sektor yang nontradable, artinya bukan pada sektor yang tidak menarik banyak lapangan kerja.
Dengan sedikit promosi di luar negeri, investor pasti tertarik pada Indonesia. Contohnya, PGN mampu memberikan kenaikan kekayaan negara (pemegang saham dominan) dari peningkatan kapitalisasi pasar Rp 1,4 triliun tahun 2003 menjadi Rp 57 triliun tahun 2009. Naik 1.300 persen.
Kondisi itu yang membuat permintaan atas instrumen investasi sangat besar. Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Kahlil Rwoter, memperkirakan, tambahan cadangan devisa yang akan masuk ke Indonesia akhir tahun 2010 bisa mencapai 30 miliar dollar AS, yakni dari posisi 70 miliar dollar AS saat ini menjadi 100 miliar dollar AS akhir tahun 2010.
Jika kenaikan 30 miliar dollar AS itu separuhnya dialokasikan untuk investasi di pasar modal Indonesia, tidak akan ada cukup instrumen investasi yang mampu menampung permintaan asing tersebut.
Kecuali jika Kementerian Keuangan menerbitkan obligasi negara 100 persen dari anggaran belanja negara, yang ditetapkan Rp 1.104 triliun pada Rancangan APBN Perubahan 2010. Namun, itu tidak diperbolehkan publik.
Untuk menyalurkan dana dari pasar modal ke sektor riil, dibutuhkan upaya yang jauh lebih keras dibandingkan hanya dengan nondeal roadshow atau promosi ke Singapura.
Majalah The Economist (edisi 17-23 April 2010) dalam tajuknya menggambarkan bahwa keunggulan Jepang dan China dalam menarik investasi tidak sekadar menyediakan buruh murah, seperti yang diunggulkan Indonesia selama ini, tetapi juga kemampuan untuk berinovasi.
Jepang dan China semakin menarik karena mampu memberikan struktur industri yang langsing. Itu hanya dapat direaliasikan dengan cara mengembangkan kreativitas untuk menekan biaya produksi.
Roubini Global Economics, LLC, yang didirikan ekonom Nouriel Roubini dari New York University, mengingatkan, Indonesia masih bisa tetap menarik karena masih memiliki permintaan domestik yang besar. Namun, itu pun belum cukup. Indonesia juga perlu mengamankan pasokan energi dan meneruskan reformasi birokrasi.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif di saat negara lain didera krisis keuangan tahun 2008, inflasi juga rendah, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga terus mendaki tinggi membuat
Kisah ini didaur ulang Sekretaris Perusahaan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Wahid Sutopo saat berbicara dalam ”Media Update tentang Membedah Kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN)” di Jakarta, Rabu (21/4/2010). ”Orang Cile tersebut mengatakan, dia hanya investasi di enam negara, dan Indonesia adalah ketiga terbesar dalam portofolionya. Bagi dia, Indonesia sedang dalam kondisi terbaik saat ini,” ujarnya.
”This is time to buy Indonesia,” kira-kira demikian tema nondeal roadshow yang akan dilakukan pemerintah dan PT Danareksa di Singapura, pekan depan. Tujuannya, menarik masuk modal asing sebanyak-banyak.
Sasaran utamanya, barangkali ada sebagian dari modal asing itu yang menetap agak lama di dalam negeri, antara tiga dan delapan tahun, dan bukan sekadar hit and run (keluar masuk pasar modal) demi laba maksimal.
Kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan akan menyentuh Rp 2.500 triliun pada akhir semester I-2010. Itu bukan tugas terlalu berat karena hingga triwulan I-2010, kapitalisasi pasar sudah mencapai Rp 2.300 triliun.
Dalam dua tahun ke depan, BEI menargetkan pertambahan perusahaan yang terdaftar di bursa (emiten) menjadi 500 perusahaan. Sampai sekarang jumlah emiten yang terdaftar di BEI hingga 405 perusahaan.
BEI juga menargetkan jumlah investor sebanyak 1 persen dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 2,3 juta investor sehingga nilai kapitalisasinya mencapai Rp 3.000 triliun.
Pemilik dana besar
Kelihatannya tidak sulit mengajak pemilik dana besar di luar negeri untuk investasi di negara yang bisa memberikan ekspektasi keuntungan 15-20 persen rata-rata per tahun.
Yang sulit adalah menahan lebih lama dana-dana hedge fund asing itu di Indonesia dan menurunkannya pada sektor-sektor riil. Sebagai gambaran minimnya saluran antara pasar modal dan sektor riil dapat dilihat dari kapitalisasi pasar 14 BUMN yang sudah masuk bursa.
Lima BUMN besar di antaranya mencatat pertumbuhan kapitalisasi pasar luar biasa. Namun, rata-rata pertumbuhan kinerjanya ditopang oleh peningkatan ekonomi di sektor yang nontradable, artinya bukan pada sektor yang tidak menarik banyak lapangan kerja.
Dengan sedikit promosi di luar negeri, investor pasti tertarik pada Indonesia. Contohnya, PGN mampu memberikan kenaikan kekayaan negara (pemegang saham dominan) dari peningkatan kapitalisasi pasar Rp 1,4 triliun tahun 2003 menjadi Rp 57 triliun tahun 2009. Naik 1.300 persen.
Kondisi itu yang membuat permintaan atas instrumen investasi sangat besar. Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Kahlil Rwoter, memperkirakan, tambahan cadangan devisa yang akan masuk ke Indonesia akhir tahun 2010 bisa mencapai 30 miliar dollar AS, yakni dari posisi 70 miliar dollar AS saat ini menjadi 100 miliar dollar AS akhir tahun 2010.
Jika kenaikan 30 miliar dollar AS itu separuhnya dialokasikan untuk investasi di pasar modal Indonesia, tidak akan ada cukup instrumen investasi yang mampu menampung permintaan asing tersebut.
Kecuali jika Kementerian Keuangan menerbitkan obligasi negara 100 persen dari anggaran belanja negara, yang ditetapkan Rp 1.104 triliun pada Rancangan APBN Perubahan 2010. Namun, itu tidak diperbolehkan publik.
Untuk menyalurkan dana dari pasar modal ke sektor riil, dibutuhkan upaya yang jauh lebih keras dibandingkan hanya dengan nondeal roadshow atau promosi ke Singapura.
Majalah The Economist (edisi 17-23 April 2010) dalam tajuknya menggambarkan bahwa keunggulan Jepang dan China dalam menarik investasi tidak sekadar menyediakan buruh murah, seperti yang diunggulkan Indonesia selama ini, tetapi juga kemampuan untuk berinovasi.
Jepang dan China semakin menarik karena mampu memberikan struktur industri yang langsing. Itu hanya dapat direaliasikan dengan cara mengembangkan kreativitas untuk menekan biaya produksi.
Roubini Global Economics, LLC, yang didirikan ekonom Nouriel Roubini dari New York University, mengingatkan, Indonesia masih bisa tetap menarik karena masih memiliki permintaan domestik yang besar. Namun, itu pun belum cukup. Indonesia juga perlu mengamankan pasokan energi dan meneruskan reformasi birokrasi.
Perekonomian Indonesia Semakin Membaik
— Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Armida Alisjahbana menegaskan, perekonomian Indonesia semakin membaik seiring dengan berkurangnya tekanan krisis ekonomi global.
"Kondisi tersebut berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang sangat berpeluang semakin membaik pada masa-masa mendatang," kata Armida dalam sambutan tertulis yang disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Wilayah dan Otonomi Daerah Bapenas MaX H Pohan di Denpasar, Bali, Kamis (22/4/2010).
Armida menyatakan, berkat pertumbuhan ekonomi yang membaik, posisi Indonesia berubah dari urutan ke-50 tahun 2005 menjadi posisi ke-42 tahun 2009 dari 57 negara di belahan dunia.
Kondisi itu berdampak pula terhadap semakin baiknya citra Indonesia di dunia internasional, dengan memiliki daya saing tinggi untuk investor dalam menanamkan modalnya di Indonesia.
Armida mengungkapkan, dalam iklim investasi, posisi Indonesia membaik dari urutan ke-129 pada 2008 kini menjadi posisi 122 dari 183 negara yang menjadi sasaran investor untuk menanamkan modalnya.
Indikator keberhasilan lainnya adalah kemiskinan dan pengangguran yang cenderung menurun. Kemiskinan turun dari 16,7 persen tahun 2004 menjadi 14,1 persen tahun 2009. Sementara pengangguran turun dari 9,9 persen tahun 2004 menjadi 8,1 persen pada 2009.
"Kondisi tersebut berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang sangat berpeluang semakin membaik pada masa-masa mendatang," kata Armida dalam sambutan tertulis yang disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Wilayah dan Otonomi Daerah Bapenas MaX H Pohan di Denpasar, Bali, Kamis (22/4/2010).
Armida menyatakan, berkat pertumbuhan ekonomi yang membaik, posisi Indonesia berubah dari urutan ke-50 tahun 2005 menjadi posisi ke-42 tahun 2009 dari 57 negara di belahan dunia.
Kondisi itu berdampak pula terhadap semakin baiknya citra Indonesia di dunia internasional, dengan memiliki daya saing tinggi untuk investor dalam menanamkan modalnya di Indonesia.
Armida mengungkapkan, dalam iklim investasi, posisi Indonesia membaik dari urutan ke-129 pada 2008 kini menjadi posisi 122 dari 183 negara yang menjadi sasaran investor untuk menanamkan modalnya.
Indikator keberhasilan lainnya adalah kemiskinan dan pengangguran yang cenderung menurun. Kemiskinan turun dari 16,7 persen tahun 2004 menjadi 14,1 persen tahun 2009. Sementara pengangguran turun dari 9,9 persen tahun 2004 menjadi 8,1 persen pada 2009.
Dana Asing Thailand Pindah ke Indonesia
Gejolak politik di Thailand yang sudah terjadi selama beberapa bulan ini belum menunjukkan tanda-tanda untuk mereda, bahkan cenderung terus memanas dan mulai merusak fundamental ekonomi Thailand.
Namun, kondisi yang terjadi di Thailand itu dapat membawa berkah bagi investasi di Indonesia. Sebagian besar dari dana-dana asing yang mengalir ke Thailand dipindahkan ke Indonesia yang mempunyai stabilitas politik bagus dan memberikan keuntungan investasi lumayan besar.
Vice President Valbury Asia Futures Nico Omer Jonckheere di Jakarta, Kamis (22/4/2010) mengatakan, krisis politik yang terjadi di Thailand dapat berdampak positif terhadap investasi di Indonesia. Pasalnya, setiap investor menginginkan situasi yang nyaman untuk berinvestasi. "Jika kondisi di sana terus memanas, maka bisa jadi investor akan mengalihkan investasinya ke negara lain, salah satunya di Indonesia," kata Omer.
Dia menambahkan, kondisi politik Indonesia yang relatif stabil dibandingkan dengan Thailand justru bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk merebut peluang investasi di kawasan ASEAN.
"Situasi politik di Indonesia relatif stabil, dapat mendorong investor luar mengalokasikan dananya di Indonesia. Stabilitas politik kita akan relatif menguntungkan investasi," ujarnya.
Namun, katanya, sebagai negara sahabat, Indonesia harus mendukung Thailand untuk mencari jalan keluar guna menyelesaikan masalah internal Negeri Gajah Putih tersebut.
Seperti dikabarkan, politik Thailand kembali memanas beberapa hari lalu setelah mengalami gonjang-ganjing politik selama 3 tahun terakhir. Perdana menteri yang digulingkan, Thaksin, masih memiliki massa pendukung yang mendesak perdana menteri berkuasa saat ini untuk mundur.
Namun, kondisi yang terjadi di Thailand itu dapat membawa berkah bagi investasi di Indonesia. Sebagian besar dari dana-dana asing yang mengalir ke Thailand dipindahkan ke Indonesia yang mempunyai stabilitas politik bagus dan memberikan keuntungan investasi lumayan besar.
Vice President Valbury Asia Futures Nico Omer Jonckheere di Jakarta, Kamis (22/4/2010) mengatakan, krisis politik yang terjadi di Thailand dapat berdampak positif terhadap investasi di Indonesia. Pasalnya, setiap investor menginginkan situasi yang nyaman untuk berinvestasi. "Jika kondisi di sana terus memanas, maka bisa jadi investor akan mengalihkan investasinya ke negara lain, salah satunya di Indonesia," kata Omer.
Dia menambahkan, kondisi politik Indonesia yang relatif stabil dibandingkan dengan Thailand justru bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk merebut peluang investasi di kawasan ASEAN.
"Situasi politik di Indonesia relatif stabil, dapat mendorong investor luar mengalokasikan dananya di Indonesia. Stabilitas politik kita akan relatif menguntungkan investasi," ujarnya.
Namun, katanya, sebagai negara sahabat, Indonesia harus mendukung Thailand untuk mencari jalan keluar guna menyelesaikan masalah internal Negeri Gajah Putih tersebut.
Seperti dikabarkan, politik Thailand kembali memanas beberapa hari lalu setelah mengalami gonjang-ganjing politik selama 3 tahun terakhir. Perdana menteri yang digulingkan, Thaksin, masih memiliki massa pendukung yang mendesak perdana menteri berkuasa saat ini untuk mundur.
Tax Ratio Pajak Pemerintah Hanya Sanggup Naik 0,2 Persen
Pemerintah hanya sanggup menaikkan tax ratio atau rasio penerimaan perpajakan terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB maksimal 0,2 persen dari 11,7 persen menjadi 11,9 persen. Ini adalah hasil kesepakatan terbaru antara wakil Kementerian Keuangan, yak ni Dirjen Pajak serta Dirjen Bea dan Cukai dengan Komisi XI DPR RI.
"Saat ini, target tax ratio sudah menjadi 11,9 persen, sudah mirip-mirip kan , sudah dekat kan dengan keinginan DPR yang menetapkan 12 persen," ungkap Dirjen Pajak Mochammad Tjiptardjo di Jakarta, Ka mis (22/4/2010) usai menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR RI yang tertutup untuk umum.
Menurut Tjiptardjo, pihaknya akan memfokuskan upaya ekstra dalam menambah penerimaan perpajakan dari intensifikasi pajak. Ini artinya, Ditjen Pajak akan menekankan kenaikan penerimaan pajak dari pemaksimalan penerimaan pajak dari setiap wajib pajak yang kurang bayar, baik wajib pajak perseorangan maupun badan.
"Target kami memang dari intensifikasi, penerimaan tambahan dari ekstensifikasi tetap dilakukan namun dengan jumlah yang jauh dari target," ungkapnya.
Sebelumnya, Dirjen Pajak menyebutkan bahwa seluruh upaya tambahan yang akan dilakukannya diharapkan akan menambah penerimaan pajak sekitar Rp 58,805 triliun. Sebagian besar atau Rp 56 triliun diantaranya merupakan hasil pengejaran setoran pajak dari proses intensifikasi.
"Intensifikasi bisa dilakukan dengan banyak cara, antara lain himbauan dan penagihan," ungkapnya.
Sebelumnya, sembilan fraksi di Komisi XI DPR RI sudah meminta pemerintah menambah penerimaan perpajakan antara Rp 5 triliun hingga Rp 19 triliun. Tambahan penerimaan perpajakan tersebut diminta seluruh fraksi meskipun Dirjen Pajak sudah menyebutkan ada upaya penambahan penerimaan sekitar Rp 58,805 triliun dari usaha ekstra aparatnya pada tahun 2010. Upaya tambahan penerimaan pajak dari usaha ekstra itu diharapkan akan menghimpun tambahan setoran pajak dari sisi intensifikasi pajak sebesar Rp 56 triliun.
Melchias merinci bahwa tambahan penerimaan perpajakan (sudah termasuk penerimaan pajak, kepabeanan, dan cukai) yang diajukan masing-masing fraksi adalah Partai Golkar meminta tambahan penerimaan Rp15 triliun dan PDI Perjuangan minta kenaikan Rp19 triliun belum termasuk potensi penerimaan pajak Rp 96,91 triliun yang merupakan temuan pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) . Kemudian Partai Keadilan Sejahtera (PKS) minta tambahan Rp 16 triliun yang sudah termasuk tagihan Public Service Obligation (PSO) dan pajak perbankan syariah.
Adapun Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP) meminta tambahan penerimaan perpajakan sebesar Rp 17 triliun, kemudian Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) meminta tambahan Rp 16 triliun belum termasuk potensi penerimaan pajak berdasarkan hasil temuan BPK, dan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F- PKB) minta tambahan Rp 15 triliun. Selebihnya, Fraksi Hati Nurani Rakyat (Hanura) meminta tambahan penerimaan perpajakan Rp 15 triliun, Fraksi Partai Demokrat minta tambahan Rp 5 triliun dari optimalisasi ekstensifikasi, dan Fraksi Gerindra minta Rp 15,8 triliun untuk mencapai tax ratio (rasio penerimaan perpajakan terhadap Produk Domestik Bruto/ PDB) 12 persen
"Saat ini, target tax ratio sudah menjadi 11,9 persen, sudah mirip-mirip kan , sudah dekat kan dengan keinginan DPR yang menetapkan 12 persen," ungkap Dirjen Pajak Mochammad Tjiptardjo di Jakarta, Ka mis (22/4/2010) usai menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR RI yang tertutup untuk umum.
Menurut Tjiptardjo, pihaknya akan memfokuskan upaya ekstra dalam menambah penerimaan perpajakan dari intensifikasi pajak. Ini artinya, Ditjen Pajak akan menekankan kenaikan penerimaan pajak dari pemaksimalan penerimaan pajak dari setiap wajib pajak yang kurang bayar, baik wajib pajak perseorangan maupun badan.
"Target kami memang dari intensifikasi, penerimaan tambahan dari ekstensifikasi tetap dilakukan namun dengan jumlah yang jauh dari target," ungkapnya.
Sebelumnya, Dirjen Pajak menyebutkan bahwa seluruh upaya tambahan yang akan dilakukannya diharapkan akan menambah penerimaan pajak sekitar Rp 58,805 triliun. Sebagian besar atau Rp 56 triliun diantaranya merupakan hasil pengejaran setoran pajak dari proses intensifikasi.
"Intensifikasi bisa dilakukan dengan banyak cara, antara lain himbauan dan penagihan," ungkapnya.
Sebelumnya, sembilan fraksi di Komisi XI DPR RI sudah meminta pemerintah menambah penerimaan perpajakan antara Rp 5 triliun hingga Rp 19 triliun. Tambahan penerimaan perpajakan tersebut diminta seluruh fraksi meskipun Dirjen Pajak sudah menyebutkan ada upaya penambahan penerimaan sekitar Rp 58,805 triliun dari usaha ekstra aparatnya pada tahun 2010. Upaya tambahan penerimaan pajak dari usaha ekstra itu diharapkan akan menghimpun tambahan setoran pajak dari sisi intensifikasi pajak sebesar Rp 56 triliun.
Melchias merinci bahwa tambahan penerimaan perpajakan (sudah termasuk penerimaan pajak, kepabeanan, dan cukai) yang diajukan masing-masing fraksi adalah Partai Golkar meminta tambahan penerimaan Rp15 triliun dan PDI Perjuangan minta kenaikan Rp19 triliun belum termasuk potensi penerimaan pajak Rp 96,91 triliun yang merupakan temuan pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) . Kemudian Partai Keadilan Sejahtera (PKS) minta tambahan Rp 16 triliun yang sudah termasuk tagihan Public Service Obligation (PSO) dan pajak perbankan syariah.
Adapun Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP) meminta tambahan penerimaan perpajakan sebesar Rp 17 triliun, kemudian Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) meminta tambahan Rp 16 triliun belum termasuk potensi penerimaan pajak berdasarkan hasil temuan BPK, dan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F- PKB) minta tambahan Rp 15 triliun. Selebihnya, Fraksi Hati Nurani Rakyat (Hanura) meminta tambahan penerimaan perpajakan Rp 15 triliun, Fraksi Partai Demokrat minta tambahan Rp 5 triliun dari optimalisasi ekstensifikasi, dan Fraksi Gerindra minta Rp 15,8 triliun untuk mencapai tax ratio (rasio penerimaan perpajakan terhadap Produk Domestik Bruto/ PDB) 12 persen
IMF Naikkan Pertumbuhan Ekonomi Global
Dana Moneter Internasional atau IMF meningkatkan prediksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini. Laporan World Economic Outlook (WEO) yang dipublikasikan IMF, Kamis (22/4/2010), menunjukkan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2010 bisa mencapai 4,2 persen.
Prediksi sebelumnya pada Januari, IMF mematok angka 3,9 persen. China menjadi negara pendorong utama kenaikan pertumbuhan ekonomi global meski target pertumbuhan dari IMF tetap sebesar 10 persen.
Selain China, India juga dianggap sebagai penggerak ekonomi dunia pascakrisis ekonomi terburuk sejak Perang Dunia II. Ekonomi India diperkirakan tumbuh 8,8 persen, naik dari proyeksi IMF sebelumnya sebesar 7,7 persen.
Cuma, IMF mewanti-wanti soal kondisi utang negara-negara dunia yang makin mengkhawatirkan. Soalnya, kalau ada negara yang gagal bayar, dampaknya bakal negatif dan meluas ke belahan dunia lain.
"Pemerintah dunia menghabiskan triliunan dollar AS untuk memulihkan pertumbuhan. Tak heran tingkat utang negara-negara dunia menyentuh rekor tertingginya," ujar Kepala Ekonom IMF Olivier Blanchard dalam laporan itu.
Prediksi sebelumnya pada Januari, IMF mematok angka 3,9 persen. China menjadi negara pendorong utama kenaikan pertumbuhan ekonomi global meski target pertumbuhan dari IMF tetap sebesar 10 persen.
Selain China, India juga dianggap sebagai penggerak ekonomi dunia pascakrisis ekonomi terburuk sejak Perang Dunia II. Ekonomi India diperkirakan tumbuh 8,8 persen, naik dari proyeksi IMF sebelumnya sebesar 7,7 persen.
Cuma, IMF mewanti-wanti soal kondisi utang negara-negara dunia yang makin mengkhawatirkan. Soalnya, kalau ada negara yang gagal bayar, dampaknya bakal negatif dan meluas ke belahan dunia lain.
"Pemerintah dunia menghabiskan triliunan dollar AS untuk memulihkan pertumbuhan. Tak heran tingkat utang negara-negara dunia menyentuh rekor tertingginya," ujar Kepala Ekonom IMF Olivier Blanchard dalam laporan itu.
Langganan:
Komentar (Atom)